Aku yang kelam
Tenggelam pada putusnya harapan
Mati tanpa perasaan
Karna hati ini tlah kau patahkan
Ribuan kali kata maaf kau ucapkan
Ribuan kali duri terus kau tancapkan
Air mata jatuh tanpa terasa
Kala kulihat cinta yang mulai dusta
Pada apa yang dahulu kita jaga
Janji bersama untuk selamanya
Kini.. palsu jadi untaian buaya
Aku tau bersamaku adalah derita
Dan bersamanya itu bahagia
Kuharap tak akan ada lagi cerita
Tentang pertemuan atau perpisahan
Tentang goresan dan sayatan
Terhadap luka yang lama terpendam
Berjalan lah seperti air yang mengalir pada tempat yang telah di tentukan, pasir dan bebatuan adalah hambatan dalam menuju arah kesuksesan. Iringi setiap langkah dengan bait-bait doa karena keindahan yang sesungguhnya ialah rasa syukur
Minggu, 22 Oktober 2017
AMARAH
Bagai yang tak bernyawa hidup
Dan mati yang ber rasa
Mati ku terpaku, Diam tak melangkah
Bagai awal mula sebuah kisah
Kau coretkan tinta pada luka yang salah
Resah galau dan gelisah
Menyelimutiku hingga terkapar dan kalah
Kau..
Memeluku hangat dan perlahan
Lalu menusuk ku sedalam cinta yang kau tanam
Pergilah sejauh mata ini tak bisa melihatmu bahagia
Dengan pria penggoda yang selama ini kau puja
Biarkan aku tetap disini menjaga kubangan duka yang membara
Langganan:
Postingan (Atom)
Ibu
bu, aku punya cerita kepadamu Tentang anak mu yang dulu manis dan lucu itu Kini sudah besar dan tumbuh dewasa . . Ibu, anak mu s...